Beranda

Rindu Keluarga…

Tinggalkan Komentar


Ibu,,, saat ini anak mu hanya ingin bertemu dan bersmpuh di pangkuan mu,
Ibu,,, do’a mu sudah banyak mengalir dalam kehidupanku
laksana sinar matahari di siang hari,
Hingga aku silau tak mampu memandangi wajah mu yang penuh kasih sayang,
Sikap manis dan lembut mu serta perhatian mu yang tanpa ada batas habisnya ingin ku rasakan dalam dekapan mu,
Hingga engkau tak merisaukan kondisimu,
Demi buah hati mu ini,

Bapak,,, saat ni aku hanya bisa membayangkan beban yang ada di pundakmu,
Entah sampai kapan aku kan bisa melihat dan meringakan beban itu,
Hanyalah mata insani biasa yang tak mampu menembus tabir-tabir dunia,
Tapi jangan kwatir orang tua ku, anak mu akan kuat dengan kemampuannya,
Anak mu akan teguh dengan lagkahnya,
Hingga anak mu bisa membalas budi pada mu,

Dengan polahku kan kucetuskan karya untuk mu,
Dengan dalih ku kan ku jujung nama mu di belahan bumi pertiwi ini,
Dengan sikap ku kan ku hantarkan engkau menuju tahta,
Dengan lambaian tanganku kan ku hapus kedholiman untuk mu,
Dengan fikiran ku kan ku susun istana untuk mu,

Dan do’a ku tak kunjung berhenti duh haiii orang tua ku,,
Semoga engakau selalu dalam limpahan anugrah TUHAN,,
Dan aku pasti kan datang bersimpuh berlinang air mata di dekapan mu,,

Sejarah Perkembangan Filsafat

Tinggalkan Komentar


Filsafat Yunani bertumbuh atas dasar pemikiran mitis dan arkais menuju ke suatu refleksi sistematis mengenai susunan dalam (logos) segala sesuatu yang terjadi. Perkembangan ini kita saksikan pada abad ke-6 dan ke-5 sebelum masehi di daerah Ionia dan Yunani Raya (Sisilia dan Italia Selatan). Ditengah-tengah masyarakat Negara kota (polis) filsuf-filsuf seperti Thales, Anaximandros dan Heraklitos berpikir_pikr tentang daya ilahi di dalam alam raya.dalam refleksi Demokratis sampai pada suatu bentuk materialisme. Dalam hasil pikiran kaum sofis tercerminlah kemerosotan masyarakat polis yang menisbikan segala norma: Sokrates melawan arus ini dengan menjadikan refleksi diri sebagai pribadi sebagai titik pangkal untuk mencapai suatu pengertian terhadap norma-norma abadi.

Murid Sokrates yang terkenal ialah Plato,427-347; dalam teorinya tentang idea-idea ia melukiskan antara kenyataan rohani yang tak dapat musnah dan kehidupan di dunia ini yang dialami secara indrawi; teori ini berkaitan dengan pandangannya mengenai terpisahnya jiwa manusia yang tak dapat mati dan badan yang akan musnah idea-idea itu mewujudkan adanya yang paling tinggi dan paling nyata, tetapi terarah juga dengan nilai kebaikan yang terdapat di sebelah sana segala sesuatu yang ada. Nilai ini mendorng dirinya untuk menerjunkan diri ke dalam kehidupan sehari-hari dan dengan demikian ia ingin membina watak manusia ditengah-tengah masyarakat polis itu. Aristoteles, 384-322, Plato dan guru Iskandar Agung, menempuh jalannya sendiri. Ia terutama memperhatikan data kongkret. Kesatuan antara forma dan materia di dalam dunia indrawi ini, yaitu substansi; Aristoteles menggali hakekat barang-barang di dunia ini dengan membuat suatu logika formal. Material semata-mata tidak ada, pengertian tersebut hanya merupakan konsep saja; kenyataan mempunyai wujud dan di dalam alam hidup, jiwa merupakan wujud terhadap badan.

Masyarakat Hellenis (sesudah Iskandar) sikap hidup terutama diperhatikan. Epikurus, 341-271, memusatkan perhatiannya kepada hidup yang dinikmati secara indrawi, berlawanan dengan mazhab Stoa bahwa sikap hidup manusia terlepas dari dunia ini. Beberapa tokoh Stoa Zeno, 336-264 dan Chrisipos, 280-206, mengajarkan bahwa hokum dunia sendiri (logos) bersifat moral. Chrisipos sudah merintis suatu logika proposisi, alam pikiran Yunani diakhiri oleh mazhab neo-platonisme yang berawal pada Plotinus 203-269: di atas ada tertinggi seperti di ungkapkan dalam idea-idea, terdapat yang tak terungkapkan, Yang Esa.

Augustinus lahir di Afrika Utara 354-430, seorang filsuf Kristen yang menekankan cinta kasih sebagai daya pendorong bagi pemikiran; ini antara lain juga mempengaruhi sikap terhadap sesame manusia. Pada abad pertengahan Bonaventura, 1221-1274,meneruskan pandangan Augustinus; ia melukiskan dunia ini sebagai perwujudan cahaya yang menjalin komunikasi antara Tuhan dan akal budi manusia (67-68). Thomas Aquino, 1225-1274 , meneruskan jalur pikiran Aristoteles. Dengan daya pikirannya sendiri manusia dapat mencapai kebenaran, tetapi sinar wahyu Tuhan itu perlu untuk mengetahui kebanaran-kebenaran yang mengatasi kekuatan kedratnya. Tuhan adalah ada tertinggi, tetapi ini tidak berarti bahwa dengan mengerti hakekatnya sesuatu, eksistensinya juga jelas: eksistensi itu bersifat kontingen, tidak niscaya. Sifat kontingen ini di kemudian hari disoroti dengan tajam oleh Duns Scotus, 1266-1308, dengan demikian hal-hal yang kongkret dijadikan pusat perhatian.

Sebagian filsafat Barat pada abad Pertengahan dipengaruhi oleh Filsafat Islam yang berakar dalam Filsafat Yunani. Al-Farabi, sekitar tahun 900, membuat shintesa antara platonisme dan aristotelisme, sedangkan Ibn Sina 980-1037, dan Ibn Rushd (Averroes), 1126-1198, mengembangkan suatu system yang lebih bersifat rasionalistis; sama dengan Filsafat Kristen merekapun menekankan bahwa eksistensi makhluk-makhluk bersifat kontingen, tidak niscaya. Pada awal abad ini Filsafat Islam dipengaruhi oleh Mohammed Iqbal, 1876-1938.

Sesudah tahun 1500 timbulnya system-sistem filsafat besar. Descrates, 1595-1650, yang bertitik pangkal pada bahwa aku berpikir (cogito, ergo sum), seluruh kenyataan terdiri atas substansi-substansi berpikir dan substansi-substansi luasa. Jiwa dan badan merupakan dua substansi terpisah biarpun di dalam diri manusia keduanya sangat erat hubungannya. Badan dilukiskannya sebagai sebuah mekanisme yang sangat rumit, sehingga kemudian hari ahli-ahli pikir materialis seperti J.O. de la Mettrie, 1709-1751 menafsirkan manusia seluruhnya sebagai sebuah mekanisme. Berlawanan dengan metoda Descrates yang rasional, Blaise Pascal, 1623-1662, yang lebih berhaluan eksistensial, menjunjung tinggi pengetahuan hati. Dalam system Benedictus de Spinoza, 1632-1677, rasionalisme dan mistik bersatu padu: lewat intuisi manusia melihat zat ketuhanan sebagai satu-satunya substansi yang terpancar dalam segala sesuatu dan ia menjadi sadar, bahwa pengetahuan itu merupakan bagian dari cinta kasih ilahi. Aspek rasionalistis sangat menonjol dalam karya Leibniz, 1646-1716; roh (berpikir) dan materi (keluasaan) bersatu karena materi merupakan cara penampakan indrawi dan ruwet mengenai kenyataan rohani yang bersifat dinamis (monade). Pengetahuan indrawi merupakan satu bentuk keruh dari pengetahuan akal budi.

Ahli pikir Inggris lebih bersifat nominalis dan empiris. Jhon Locke,1632-1704, berpendapat, bahwa semua pengetahuan berakar dalam pengetahuan indrawi; konsep substansi hanya merupakan sebuah etiket yang secara rasional diberikan kepada sesuatu yang tidak kita ketahui. Dalam hal ini ia bertolak belakang dengan Leibniz dan di daratan Eropa hanya E. de Condillac, 1715-1780, memperlihatkan titik persamaan dengan Locke (sensualisme). Lewat faham empirisme George Berkeley, 1685-1753, sampai pada faham immaterialisme: kenyataan hanya dapat kita tangkap dalam konsep-konsep lewat pencerapan roh. Itulah sebabnya mengapa materi itu ada kadar rohaninya dan merupakan sebuah tulisan sandi yang menunjukkan kepada penulisnya, yaitu Tuhan. Sebaliknya David Hume, 1711-1776, sampai pada kesimpulan-kesimpulan skeptis. Dalam faham positivisnya ia menyangsikan segala pengetahuan akal budi, diantaranya: kausalitas.

Immanuel Kant, 1724-1804, sebaliknya berpendapat, bahwa kita dapat tahu dengan pasti, biarpun tidak bredasarkan data dari pancaindra, melainkan daya cara pengetahuan kita mengatur bahannya dalam bentuk-bentuk pencerapan dan kategori-kategori akal yang semuanya diatur ole hide-ide budi. Tetapi kesadrannya akan hokum moral, manusia manusia menjangkau jauh diluar kemampuan akal budi, ia meraih dunia noumenal. Ia sadar pula akan  keindahan dan tepat gunanya alam raya, sehingga dalam dunia indrawi ini ia dapat menemukan tanda-tanda mengenai suatu kenyataan yang lebih tinggi, biarpun ini tak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Faham Idealisme mutlak yang didukung oleh J.G. Fichte, 1762-1814, dan G.W.F. Hegel, 1770-1831,kenyataan yang lebih tinggi itu dapat kita raih secara langsung, yaitu lewat dialektika budi: kesadaran manusia tentang dirinya merupakan suatu moment dalam kesadaran Dunia, yaitu Budi. Tetapi F.W.J Schelling, 1775-1854, berpendapat bahwa eksistensi tidak dapat diraih oleh akal budi, jadi bersifat kontingen ; dengan pendapat ini ia mempengaruhi faham vitalisme di kemudian hari dan juga filsafat eksistensi. Eksistensi manusia merupakan pusat perhatian bagi A. Schopenhauer, 1788-1860; yang menjadi hakekat eksistensi itu ialah kemauan yang tidak berakal. Sebaliknya E. Nietzsche, 1844-1900, melihat hakekat eksistensi ini justru dalam kegairahan menerima hidup ini dengan mengesampingkan kepercayaan akan Tuhan. L.Feurbach, 1804-1872, melukiskan eksistensi manusia secara jasmani sebagi suatu hubungan antara aku dan engkau . Karl Marx, 1818-1883, mengolah pandangan materialistis itu secara dialektis; di dalam dialektika social terjadilah kesadaran yang mau berbuat sesuatu ; alat dan produksi disadari sebagai suatu yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, kemudian dalam kesadaran efektif pengasingan itu dilenyapkan dalam perjuangan mendirikan Negara keselamatan. Materialisme dialektis inin dikembangkan lebih lanjut oleh F. Engles, 1820-1895, dan W.E. Lenin, 1870-1924.

Vitalisme dipengaruhi oleh filsaft Romantik (Schelling, Carus) dan dalam beberapa hal juga oleh Schopenhauer dan Nietzsche.faham ini ada macam-macam cabang. Neo-vitalisme H.Driesch, 1867-1941, tertuju kepada alam alam hidup dan arahnya. Sedangkan filsafat kehidupan H. Bergson, 1859-1941, lebih bersifat spiritualistis; gairah kehidupan mencapai puncaknya lewat evolusi dalam diri manusia dan masyarakatnya yang bersifat religius-moral; di belakang patokan-patokan akal budi kehidupan itu dapat diraih oleh intuisi.arah pikiran ini diterskan oleh ahli purbakala P. Teilhard de Chardin, 1885-1955, dan berdekatan dengan metafisika dinamis A.N. Whitehead, 1861-1947, yang lebih bersifat platonistis. Filsafat kehidupan yang menekankan pengalaman batin diutarakan oleh W.  Dhilthey, 1833-1911, dan J.Ortegay Gasset, 1883-1955.

Yang dekat dengan filsafat tersebut ialah filsafat eksistensi dan berpangkal pada S.Kierkegaard, 1813-1855, yang menjadi dasar pandangannya ialah eksistensi manusia yang kongkret yang berhadapan dengan Tuhan. Satu abad kemudian banyak ahli pikir lainnya ternyata terpengaruh oleh Kierkegaard; K. Jaspers, 1883-1969, yang melihat bagaimana kita menjadi sadar mengetahui eksistensi kita dalam komunikasi dengan orang lain dan di dalam rangkulan Dia yang meliputi segala-galanya. M. Heidegger, 1889-1976, berpendapat bahwa eksistensi pribadi manusia menampakan yang ada, tidak sebagai sesuatu “di belakang barang-barang” , melainkan di dalam dimensi waktu. Bagi J.P. Sartre, lahir tahun1905, konfrontasi dengan sesame manusia menjadi pusat perhatiannya. Hubungan dengan sesama manusia sebagai hubungan antara aku-engkau, baik oleh G. Marcel, 1889-1976, maupun oleh M. Buber, 1878-1965, dianggap sebagai nada dasar positif bagi eksistensi manusia.

Cirri khas bagi filsafat Amerika, yaitu faham Pragmatisme, berpangkal pada kesadaran hidup yang praktis dan lugas. C.S. Peirce,1839-1916, W. James, 1842-1910, dan J. Dewey, 1859-1952. Selain itu di dunia Anglosaxon berkembanglah faham positivisme logi dan filsafat analistis. Perintis-perintis faham positivisme ini terdapat di tanah Prancis, A. Comte, 1797-1858, dan Austria, E. Mach, 1838-1916, lingkaran wina dengan seorang eksponen seperti misalnya R. Carnap, 1891-1970, meneruskan tradisi ini. L. Wittgenstein, 1889-1951, juga terpengaruh oleh kelompok ini; ia membatasi filsafat manjadi suatu sistem tanda-tanda bahasa yang logis dan yang mudah dapat ditangani.masalah-masalah metafisika dianggapnya termasuk bidang yang tak terungkapkan. Sesudah perang dunia II analisa bahasa seperti dirintis oleh. Wittgenstein berpengaruh besar di Inggris antara lain terhadap G. Ryle, 1900-1976. Sebelumnya A.J. Eyer, 1910, pun sudah mempergunakan penelitian bahasa dan sistem verifikasi yang ketat untuk menyingkirkan problema metafisika . ahli pikr lainnya, seperti J.L Austin, 1911-1960, dan P.F.Strawson, lahir tahun 1919,  memberikan sumbangannya untuk filsafat analistis itu. Cara pendekatan terhadap masalah-masalah filsafat ini juga dipergunakan oleh G.E.Moore, 1873-1958, dan B. Russell, 1872-1970; masing-masing bertitik pangkal pada suatu pendirian filsafat yang khas, tetapi mempergunakan analisa dan logika bahasa untuk mendekati masalah-masalah etis dan filsafati,. Agak dekat pada aliran tersebut ialah K. Popper, lahir tahun 1902, yang ingin mencapai suatu pengetahuan obyektif 100% dan dalam hubungan ini mempergunakan istilah “roh obyektif”.

Aliran fenomenologi juga ingin menganalisa gejala-gejala yang secara positif terpapar. Dalam aliran ini ada beberapa titik persamaan dengan neo-positivisme, tetapi lebih banyak dengan filsafat eksistensi seperti M. Scheler, 1874-1928, yang ingin menganalisa nilai-nilai obyektif dengan bertitik tolak pada pengetahuan yang diliputi cinta kasih. N. Hartman, 1882-1950, berusaha menyusun suatu ontologi menurut taraf-taraf kenyataan (Schichten). Edmun Husserl, 1959-1938, menempuh jalannya sendiri ia menempatkan kenyataan diantara tanda kurung dan ingin menganalisa hakekat barang itu seperti nampaknya; demikian ia sampai pada kesimpulan, bahwa barang-barang kongkret menunjukkan lebih lanjut menurut lingkaran-lingkaran kebertautan yang makin luas. Banyak ahli pikir lainnya dipengaruhi oleh Husserl: M.Merleau-ponty, 1908-1961. E. Levinas, lahir tahun 1905, menganalisa “wajah manusia” yang tertera oleh penderitaan dan mencari apa yang terdapat di sebelah sana dunia esensi-esensi, sedangkan P. Recoeur, lahir tahun 1913, menganalisa symbol-simbol purba.

Aliran neo-marxisme dengan E. Bluch,R. Garaudy, J.Habermas dan H.Marcuse, misalnya merekapun mencari wajah manusia dan ingin menyelamatkan manusia dari bahaya pengasingan seperti dilakukan oleh alat-alat seprti partai masyarakat konsumen modern. Kemudian ahli pikir yang mewakili faham strukturalisme (N. Chomsky dalam ilmu bahasa, Cl.Levi-Strauss dalam ilmu antropologi budaya dan M. Foucault dalam sejarah kebudayaan). Biarpun dalam banyak hal mereka mempunyai pandangan sendiri, namun ada satu titik persamaan, yakni mereka ingin melepaskan corak filsafat yang terlalu antroposentris; sebagai pengganti mereka menekankan bahwa sebagai kunci penafsiran hendaklah dicari struktur-struktur obyektif yang sering tersembunyi sebgai suatu lapisan bawah dalam aneka macam lingkungan kebudayaan.

 

Aktualisasi Perjuangan Kartini Masa Kini

Tinggalkan Komentar


Satu abad lebih nama Kartini telah bertebaran dengan harum, tepatnya 133 tahun sesusai dengan jargon yang beliau sandang, tidak mengalami kesurutan sama sekali, akan tetapi benih benih perjuangan yang telah beliau perjuangkan lambat laun terasa sirna dan hilang di telan oleh masa, lantas apa penyebab nya?, hal ini yang perlu di perhatikan oleh para kalangan kaum perempuan yang mempunyai hutang budi terhadap kartini, sederet sejarah telah membuktikan bahwa perjuang yang dilakukan kartini hanya semata mata untuk mengapai kecerahan dimasa mendatang, beliau memperjuangkan hak hak yang telah direnggut oleh penjajah demi kebaikan anak cucu bangsa tercinta kini, akankah perjuangan yang begitu mulia kita biarkan hilang ditelan dan dihantam oleh badai begitu saja, atau masih banggakah kita dengan kebesaran nama pejuang kita?, tapi kita tidak mampu meneruskan perjuangannya.

Maka seiring menjelang peringatan hari kartini ini, akan terasa layak dan pantas kita teladani jika kita mampu mengimplementasikan culture dan value perjuangan beliau, karna konteks masa sekarang sudah jauh dengan konteks masa masa muda kartini, dimana tantangan zaman sekarang lebih global, tantangan tidak hanya datang dari luar akan tetapi tantangan itu muncul dari dalam juga yang harus kita musnahkan.

Dimana kondisi  nilai nilai sosial kemasyarakatan dan culture sosial sekarang telah diabaikan, budaya budaya luar telah menjamur masuk dalam kehidupan generasi masa kini, seakan akan budaya kita sendiri sudah terkontaminasi dengan budaya luar, padahal budaya kita adalah kebanggaan kita semua, simbol dri kebesaran nusantara ini, simbol yang membedakan kita dengan negara tetangga, simbol dari jati diri bangsa ini, simol dari kesetiaan warga negara ini, simbol loyalitas dari bangsa ini, dan simbol prestasi negara ini.

Pemuda dan pemudi sekarang akn mersa lebih percaya diri ketika mereka mempraktekkan budaya orang lain dari pada budayanya sendiri, khususnya yang paling banyak kita jumpai adalah kalangan perempuan yang sering mengadopsi budaya budaya lain, identitas bangsa ini seolah olah telah tergadaikan, bagaimana kita bisa bangga terhadap bangsa ini, bagaimana kita bisa maju kalau para generasi bangsa sukanya sebagai plagiat saja.

Maka mumpung ada waktu yang tepat untuk mengaktulisasikan roh roh pejuang yang telah mengharumkan bangsa ini, kita teladani, kita implementasikan dlam kehidupan keseharian, padahal jika kita renungkan bahwa perempuan merupakan sebuah titik tolak bagi maju tidaknya bangsa ini, perempuan bisa dibilang sebagai tiangnya negara ini, lantas apa yang sekarang kauam perempuan lakukan untuk bangsa ini? apakah mereka hanya mempercantik dandannya, ataukah memperindah gayanya, ataukah hanya mengikuti trent model yang berkembang,?? kicohan itu memang manis tapi tidak semanis hasil yang akan ditorehkan nantinya.

Seharusnya kaum perempuan harus lebih pandai menjiwai perjuangan kartini masa silam lalu, perjuangan yang tidak murah yang dapat di bayar dengan tetesan keringat saja, tapi perjuangan itu sangat mahal karna nyawa dan derihan air mata yang selalumengalir, demi menciptakan kesejahteraan dan derajat kaum perempuan, demi masa depan yang gemilang.

Tidak cukup perjuanganga kartini hanya dibayar dengan memakai kebaya saja, tapi yang terpenting adalah mengaktualisasi perjuangan kartini untuk masa kini, supaya kemajuan bangsa, kesejarteraan, kedamaian dan ketertiban tercipta di bumi pertiwi ini, masih banyak tugas yang dikembangkan oleh kaum wanita, jalan terasa masih terbuka untuk perjuangan kaum perempuan, apalagi dengan dituntut dengan adanya emansipasi kaum perempuan seharusnya lebih mempunyai arti untuk memikirkan kamajuan bersama.

Memunculkan roh dan semangat perjuangan yang telah dilakukan kartini merupakan suatu perbuatan yang mulia untuk mengapai cita cita di bumi pertiwi, bumi yang penuh dengan lemah lembut, sopan santun, panorama keindahan bagaikan surga diatas bukit, sehingga dalam tatanan kedepannya adalah menata moral moral kaum perempuan yang mempunayi dedikasi yang tinggi, serta mempunyai orientasi untuk mendidik generasi penerusnya supaya tidak gandrung dengan keindahan dan kemolekan budaya yang menjadikan runtuhnya moral kita atau degragasi moral yang saat ini semakin melambung tinggi.

Maka kelak perjuangan ini tidak hanya dengan perjuangan secara fisik akan tetapi juga perjuangan secara intelektual dan spiritual juga, demi menerjang badai yang telah menerjang jati diri bangsa.

“SELAMAT HARI KARTINI”

Menjelang Masa Transisi IPNU IPPNU Kota Yogyakarta

Tinggalkan Komentar


Jogjakarta, ditengah hiruk pikuknya dinamika pelajar, ini menjadikan justis bahwa yogyakarta merupakan kota pelajar, sehingga tidak asing lagi jika banyak oerganisasi organisasi yang berkembang pesat di dalamnya,seperti halnya IKATAN PELAJAR NAHDLATUL ULAMA(IPNU) dan IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA (IPPNU) cabang kota YOGYAKARTA INI.yang tidak lama lagi akan merakukan konfrensi cabang, yang insyaallah akan di lakukan pada taggal 28-29 April 2012 ini, hal ini merupakan simbul bahwa IPNU IPPNU kota yogyakarta merupakan organisasi yang tumbuh dan berkembang.
hal ini benar benar menguji kepada anggota dan kader kader DARI ORGANISASI ini, karna ini merupakan bentuk dari pembelajaran demokrasi yang sehat, maka harus diterapkan dalam organisasi ini, tidak mungkin organisasiyang basisnya adalah pelajar berkecimpung dalam dunia politik, maka perpolitikan harus bersih dari organisasi ini. karna organisasi ini jauh dari kepentingan kepetingan yang ada, yang ada hanyalah perjuangan dalam menciptakan generasi generasi muda NU yang mempunyai kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, karna kedepannya nanti generasi inilah yang akan menerus kan perjuangan para ulama ulama.
yang terpenting bukan siapa yang akan memimpin nantinya akan tetapi apa yang akan dilakukan kedepan nantinya yang mana notabenya ini sebagai oerganisasi kaderisasi yang menaungi pelajar. sehingga akan tampak tindakan tindakan yang riil yanga akan dilakukan untuk kedepannya nanti, bukan hanya sekedar bertengger kepada nama kebesarannya.
apalagi kali ini IPNU DAN IPPNU mempunyai kader yang banyak, tentu ini akan menjadi PR bagi pengurus selanjutnya, aka tetapi ini bukan suatu permasalahan pokok yang harus di prihatinkan,malahan dengan kader yang banyak pula akan semakin memperbanyak karya karya nyata yang akan disalurkan pada nantinya.
dalam konfrensi cabang kali ini akan di meriahkan dengan berbagai acara menjelang pra konfercab nanti, dan dalam pemilihan nanti akan di meriahkan oleh tiga kubu yang masing masing mengusung calonnya, untuk merebutkan kursi ketua IPNU IPPNU cabang Kota Yogyakarta. hal ini tentunya akan menjadi persaingan yang menarik, karna masing masing calon mempunyai visi dan misi untuk membawa IPNU IPPNU kota yogyakarta ini lebih baik dari pada yang kemarin.
semuanya telah bertekad untuk mamajukan dan mambawa lambang kebesaran ini berkibar di KOTA Yogyakarta, hal inilah yang perlu dibangakan karna para calon iniberlomba lomba dalam kebaikan untuk kemaslahatan bersama demi memperjuangkan nama baik.
setidaknya ini dapat menjadi cotoh terhadap organisasi organisasi yang lainnya, sehingga lambat laut nanti setiap orgaisasi kepemudaaan kan melahirkan generasi generasi yang bener bener kapabel terhadap kemampuannya, sehingga merekan aka mampu menjalankan roda perjalanan pada yang sesuai dengan pelaturan pelaturan yang ada.

Gonjang Ganjing BBM Meresahkan Rakyat

Tinggalkan Komentar


1 april 2012, merupakan sebuah sejarah yang tidak akan di lupakan bagi semua rakyat indonesia, dimana pada tanggal itu akan terjadi kenaikan BBM yang telah rencanakan, akan tetapi dengan semangat nasionalis dalm memperjuangkan hak sebagai warga negara, akhirnya semua elemen berbondong bondong turun jalan, guna untuk mencegah kenaikan BBM. karna masih banyak rayat yang hidup di kolong jembatan,banyak mereka mereka yang nasib hidupnya sangat memprihatinkan sekali, hal ini akan sangat ironis jika pemerintah menaikkan BBM, terus bagaimana nasib mereka nantinya??
kenaikan BBM akna berdampak sistemik, dimana semua harga kebutuhan akan naik, dan yang paling tragis nantinya adalah nasib para petani, padahal mayoritas penduduk Nusantara iNI ADALAH PETANI, karna melihat letak geografis dari negara ini. sehingga tidak terbanyangkan lagi ketika BBM naik maka akan ada kemiskinan massal di negara ini, angka kemiskinan akan melejiat naik, dan akan memperburuk kondisi indonesia sebagai negara berkembang.
berkat semangat dan perjuangan para teman teman yang turun jalan jalan akhirnya di dengar oleh anggota dewan sehingga dalam sidang paripurna di putusan pad aopsi A, dimana untuk eman bulan kedepan harga BBM tidak akan naik, akan tetapi jika nantnya harga minyak dunia mengalami kenaikan setelah eman bulan kedepan maka harga BBM nanti akan dinaikan untuk mengkuti kenaikan harga minyak dunia.
hal ini setidaknya dapat memberi angin segar terhadap rakyat walaupu caman eman bulan waktunya, akan tetapi walaupun harga BBM saat ini tidak naik banyak warga negara yang kesulitan mendapatkanya, jika mereka mendapatkannya terpakasa dengan harga yang tinggi diatas harga standart nasional, hal ini disebabkan karna BBM saat ini dipermainkan oleh mekanisme pasar, sehingga rakyat tidak bisa melakukan control terhadapnya.
seakan akan negara ini sudah masuk dalam lingkaran setan, karna BBM akan terus mengalami kenaikan, dan pemerintahpun tidak mempunyai daya apaun untuk mencegah kenaikan ini, siapapun yang berkuasa tidak akan bisa membendung kenaikan BBM, toh mungkin alternatif untuk menanggulangi kenaikan akhirnya negara ini hutang kepada pihak atau lembaga hutang dunia. karna seperti data yang sudah ada Produksi minyak dalam negeri itu hanya 850.892 barel/hari (ini data 2008, sekarang mungkin di angka 900ribuan) sementara kebutuhan dalam negeri kita di angka 1.4 juta barel per hari nah setiap hari pemerintah itu tombok 500 ribu barel perhari bisa di bayangkan berapa tomboknya per bulan per tahun
dst sementara kita memiliki ketergantungan tingkat akut terhadap BBM. sedangkan rakyat menuntutnya harga minyak ini murah. maka hal ini setidaknya harus menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memikirkan kebijakan yang pro terhadap rakyatnya, supaya penduduk nusnatara ini mengalami kesejahteraan yang merata.
maka harus ada alternatif baru untuk menggantikan ketergantungan rakyat terhadap BBM,karna ketika berurusan dengan bahan bakar ini bukan urusan yang sederhana akan tetapi ini permasalahan yang snagat rumit sekali karna ini berhubungan denga kapitalisme global.
akan tetapi jika pemerintah peka terhadap kondisi yang ada sekarang ini, dimana para generasi bangsa in banyak yang mempunyai kemampuan yang memadai, hal ini bisa dimanfa’atkan untuk menciptakan solusi pengganti BBM ini, toh indinesia ini tidak akan kekurangan apapun sebenarnya jika negara ini dikelola dengan manajerial yang pro terhadap rakyat dan cinta kepada bangsa ini.

Entri Lama