Filsafat Yunani bertumbuh atas dasar pemikiran mitis dan arkais menuju ke suatu refleksi sistematis mengenai susunan dalam (logos) segala sesuatu yang terjadi. Perkembangan ini kita saksikan pada abad ke-6 dan ke-5 sebelum masehi di daerah Ionia dan Yunani Raya (Sisilia dan Italia Selatan). Ditengah-tengah masyarakat Negara kota (polis) filsuf-filsuf seperti Thales, Anaximandros dan Heraklitos berpikir_pikr tentang daya ilahi di dalam alam raya.dalam refleksi Demokratis sampai pada suatu bentuk materialisme. Dalam hasil pikiran kaum sofis tercerminlah kemerosotan masyarakat polis yang menisbikan segala norma: Sokrates melawan arus ini dengan menjadikan refleksi diri sebagai pribadi sebagai titik pangkal untuk mencapai suatu pengertian terhadap norma-norma abadi.

Murid Sokrates yang terkenal ialah Plato,427-347; dalam teorinya tentang idea-idea ia melukiskan antara kenyataan rohani yang tak dapat musnah dan kehidupan di dunia ini yang dialami secara indrawi; teori ini berkaitan dengan pandangannya mengenai terpisahnya jiwa manusia yang tak dapat mati dan badan yang akan musnah idea-idea itu mewujudkan adanya yang paling tinggi dan paling nyata, tetapi terarah juga dengan nilai kebaikan yang terdapat di sebelah sana segala sesuatu yang ada. Nilai ini mendorng dirinya untuk menerjunkan diri ke dalam kehidupan sehari-hari dan dengan demikian ia ingin membina watak manusia ditengah-tengah masyarakat polis itu. Aristoteles, 384-322, Plato dan guru Iskandar Agung, menempuh jalannya sendiri. Ia terutama memperhatikan data kongkret. Kesatuan antara forma dan materia di dalam dunia indrawi ini, yaitu substansi; Aristoteles menggali hakekat barang-barang di dunia ini dengan membuat suatu logika formal. Material semata-mata tidak ada, pengertian tersebut hanya merupakan konsep saja; kenyataan mempunyai wujud dan di dalam alam hidup, jiwa merupakan wujud terhadap badan.

Masyarakat Hellenis (sesudah Iskandar) sikap hidup terutama diperhatikan. Epikurus, 341-271, memusatkan perhatiannya kepada hidup yang dinikmati secara indrawi, berlawanan dengan mazhab Stoa bahwa sikap hidup manusia terlepas dari dunia ini. Beberapa tokoh Stoa Zeno, 336-264 dan Chrisipos, 280-206, mengajarkan bahwa hokum dunia sendiri (logos) bersifat moral. Chrisipos sudah merintis suatu logika proposisi, alam pikiran Yunani diakhiri oleh mazhab neo-platonisme yang berawal pada Plotinus 203-269: di atas ada tertinggi seperti di ungkapkan dalam idea-idea, terdapat yang tak terungkapkan, Yang Esa.

Augustinus lahir di Afrika Utara 354-430, seorang filsuf Kristen yang menekankan cinta kasih sebagai daya pendorong bagi pemikiran; ini antara lain juga mempengaruhi sikap terhadap sesame manusia. Pada abad pertengahan Bonaventura, 1221-1274,meneruskan pandangan Augustinus; ia melukiskan dunia ini sebagai perwujudan cahaya yang menjalin komunikasi antara Tuhan dan akal budi manusia (67-68). Thomas Aquino, 1225-1274 , meneruskan jalur pikiran Aristoteles. Dengan daya pikirannya sendiri manusia dapat mencapai kebenaran, tetapi sinar wahyu Tuhan itu perlu untuk mengetahui kebanaran-kebenaran yang mengatasi kekuatan kedratnya. Tuhan adalah ada tertinggi, tetapi ini tidak berarti bahwa dengan mengerti hakekatnya sesuatu, eksistensinya juga jelas: eksistensi itu bersifat kontingen, tidak niscaya. Sifat kontingen ini di kemudian hari disoroti dengan tajam oleh Duns Scotus, 1266-1308, dengan demikian hal-hal yang kongkret dijadikan pusat perhatian.

Sebagian filsafat Barat pada abad Pertengahan dipengaruhi oleh Filsafat Islam yang berakar dalam Filsafat Yunani. Al-Farabi, sekitar tahun 900, membuat shintesa antara platonisme dan aristotelisme, sedangkan Ibn Sina 980-1037, dan Ibn Rushd (Averroes), 1126-1198, mengembangkan suatu system yang lebih bersifat rasionalistis; sama dengan Filsafat Kristen merekapun menekankan bahwa eksistensi makhluk-makhluk bersifat kontingen, tidak niscaya. Pada awal abad ini Filsafat Islam dipengaruhi oleh Mohammed Iqbal, 1876-1938.

Sesudah tahun 1500 timbulnya system-sistem filsafat besar. Descrates, 1595-1650, yang bertitik pangkal pada bahwa aku berpikir (cogito, ergo sum), seluruh kenyataan terdiri atas substansi-substansi berpikir dan substansi-substansi luasa. Jiwa dan badan merupakan dua substansi terpisah biarpun di dalam diri manusia keduanya sangat erat hubungannya. Badan dilukiskannya sebagai sebuah mekanisme yang sangat rumit, sehingga kemudian hari ahli-ahli pikir materialis seperti J.O. de la Mettrie, 1709-1751 menafsirkan manusia seluruhnya sebagai sebuah mekanisme. Berlawanan dengan metoda Descrates yang rasional, Blaise Pascal, 1623-1662, yang lebih berhaluan eksistensial, menjunjung tinggi pengetahuan hati. Dalam system Benedictus de Spinoza, 1632-1677, rasionalisme dan mistik bersatu padu: lewat intuisi manusia melihat zat ketuhanan sebagai satu-satunya substansi yang terpancar dalam segala sesuatu dan ia menjadi sadar, bahwa pengetahuan itu merupakan bagian dari cinta kasih ilahi. Aspek rasionalistis sangat menonjol dalam karya Leibniz, 1646-1716; roh (berpikir) dan materi (keluasaan) bersatu karena materi merupakan cara penampakan indrawi dan ruwet mengenai kenyataan rohani yang bersifat dinamis (monade). Pengetahuan indrawi merupakan satu bentuk keruh dari pengetahuan akal budi.

Ahli pikir Inggris lebih bersifat nominalis dan empiris. Jhon Locke,1632-1704, berpendapat, bahwa semua pengetahuan berakar dalam pengetahuan indrawi; konsep substansi hanya merupakan sebuah etiket yang secara rasional diberikan kepada sesuatu yang tidak kita ketahui. Dalam hal ini ia bertolak belakang dengan Leibniz dan di daratan Eropa hanya E. de Condillac, 1715-1780, memperlihatkan titik persamaan dengan Locke (sensualisme). Lewat faham empirisme George Berkeley, 1685-1753, sampai pada faham immaterialisme: kenyataan hanya dapat kita tangkap dalam konsep-konsep lewat pencerapan roh. Itulah sebabnya mengapa materi itu ada kadar rohaninya dan merupakan sebuah tulisan sandi yang menunjukkan kepada penulisnya, yaitu Tuhan. Sebaliknya David Hume, 1711-1776, sampai pada kesimpulan-kesimpulan skeptis. Dalam faham positivisnya ia menyangsikan segala pengetahuan akal budi, diantaranya: kausalitas.

Immanuel Kant, 1724-1804, sebaliknya berpendapat, bahwa kita dapat tahu dengan pasti, biarpun tidak bredasarkan data dari pancaindra, melainkan daya cara pengetahuan kita mengatur bahannya dalam bentuk-bentuk pencerapan dan kategori-kategori akal yang semuanya diatur ole hide-ide budi. Tetapi kesadrannya akan hokum moral, manusia manusia menjangkau jauh diluar kemampuan akal budi, ia meraih dunia noumenal. Ia sadar pula akan  keindahan dan tepat gunanya alam raya, sehingga dalam dunia indrawi ini ia dapat menemukan tanda-tanda mengenai suatu kenyataan yang lebih tinggi, biarpun ini tak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah.

Faham Idealisme mutlak yang didukung oleh J.G. Fichte, 1762-1814, dan G.W.F. Hegel, 1770-1831,kenyataan yang lebih tinggi itu dapat kita raih secara langsung, yaitu lewat dialektika budi: kesadaran manusia tentang dirinya merupakan suatu moment dalam kesadaran Dunia, yaitu Budi. Tetapi F.W.J Schelling, 1775-1854, berpendapat bahwa eksistensi tidak dapat diraih oleh akal budi, jadi bersifat kontingen ; dengan pendapat ini ia mempengaruhi faham vitalisme di kemudian hari dan juga filsafat eksistensi. Eksistensi manusia merupakan pusat perhatian bagi A. Schopenhauer, 1788-1860; yang menjadi hakekat eksistensi itu ialah kemauan yang tidak berakal. Sebaliknya E. Nietzsche, 1844-1900, melihat hakekat eksistensi ini justru dalam kegairahan menerima hidup ini dengan mengesampingkan kepercayaan akan Tuhan. L.Feurbach, 1804-1872, melukiskan eksistensi manusia secara jasmani sebagi suatu hubungan antara aku dan engkau . Karl Marx, 1818-1883, mengolah pandangan materialistis itu secara dialektis; di dalam dialektika social terjadilah kesadaran yang mau berbuat sesuatu ; alat dan produksi disadari sebagai suatu yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, kemudian dalam kesadaran efektif pengasingan itu dilenyapkan dalam perjuangan mendirikan Negara keselamatan. Materialisme dialektis inin dikembangkan lebih lanjut oleh F. Engles, 1820-1895, dan W.E. Lenin, 1870-1924.

Vitalisme dipengaruhi oleh filsaft Romantik (Schelling, Carus) dan dalam beberapa hal juga oleh Schopenhauer dan Nietzsche.faham ini ada macam-macam cabang. Neo-vitalisme H.Driesch, 1867-1941, tertuju kepada alam alam hidup dan arahnya. Sedangkan filsafat kehidupan H. Bergson, 1859-1941, lebih bersifat spiritualistis; gairah kehidupan mencapai puncaknya lewat evolusi dalam diri manusia dan masyarakatnya yang bersifat religius-moral; di belakang patokan-patokan akal budi kehidupan itu dapat diraih oleh intuisi.arah pikiran ini diterskan oleh ahli purbakala P. Teilhard de Chardin, 1885-1955, dan berdekatan dengan metafisika dinamis A.N. Whitehead, 1861-1947, yang lebih bersifat platonistis. Filsafat kehidupan yang menekankan pengalaman batin diutarakan oleh W.  Dhilthey, 1833-1911, dan J.Ortegay Gasset, 1883-1955.

Yang dekat dengan filsafat tersebut ialah filsafat eksistensi dan berpangkal pada S.Kierkegaard, 1813-1855, yang menjadi dasar pandangannya ialah eksistensi manusia yang kongkret yang berhadapan dengan Tuhan. Satu abad kemudian banyak ahli pikir lainnya ternyata terpengaruh oleh Kierkegaard; K. Jaspers, 1883-1969, yang melihat bagaimana kita menjadi sadar mengetahui eksistensi kita dalam komunikasi dengan orang lain dan di dalam rangkulan Dia yang meliputi segala-galanya. M. Heidegger, 1889-1976, berpendapat bahwa eksistensi pribadi manusia menampakan yang ada, tidak sebagai sesuatu “di belakang barang-barang” , melainkan di dalam dimensi waktu. Bagi J.P. Sartre, lahir tahun1905, konfrontasi dengan sesame manusia menjadi pusat perhatiannya. Hubungan dengan sesama manusia sebagai hubungan antara aku-engkau, baik oleh G. Marcel, 1889-1976, maupun oleh M. Buber, 1878-1965, dianggap sebagai nada dasar positif bagi eksistensi manusia.

Cirri khas bagi filsafat Amerika, yaitu faham Pragmatisme, berpangkal pada kesadaran hidup yang praktis dan lugas. C.S. Peirce,1839-1916, W. James, 1842-1910, dan J. Dewey, 1859-1952. Selain itu di dunia Anglosaxon berkembanglah faham positivisme logi dan filsafat analistis. Perintis-perintis faham positivisme ini terdapat di tanah Prancis, A. Comte, 1797-1858, dan Austria, E. Mach, 1838-1916, lingkaran wina dengan seorang eksponen seperti misalnya R. Carnap, 1891-1970, meneruskan tradisi ini. L. Wittgenstein, 1889-1951, juga terpengaruh oleh kelompok ini; ia membatasi filsafat manjadi suatu sistem tanda-tanda bahasa yang logis dan yang mudah dapat ditangani.masalah-masalah metafisika dianggapnya termasuk bidang yang tak terungkapkan. Sesudah perang dunia II analisa bahasa seperti dirintis oleh. Wittgenstein berpengaruh besar di Inggris antara lain terhadap G. Ryle, 1900-1976. Sebelumnya A.J. Eyer, 1910, pun sudah mempergunakan penelitian bahasa dan sistem verifikasi yang ketat untuk menyingkirkan problema metafisika . ahli pikr lainnya, seperti J.L Austin, 1911-1960, dan P.F.Strawson, lahir tahun 1919,  memberikan sumbangannya untuk filsafat analistis itu. Cara pendekatan terhadap masalah-masalah filsafat ini juga dipergunakan oleh G.E.Moore, 1873-1958, dan B. Russell, 1872-1970; masing-masing bertitik pangkal pada suatu pendirian filsafat yang khas, tetapi mempergunakan analisa dan logika bahasa untuk mendekati masalah-masalah etis dan filsafati,. Agak dekat pada aliran tersebut ialah K. Popper, lahir tahun 1902, yang ingin mencapai suatu pengetahuan obyektif 100% dan dalam hubungan ini mempergunakan istilah “roh obyektif”.

Aliran fenomenologi juga ingin menganalisa gejala-gejala yang secara positif terpapar. Dalam aliran ini ada beberapa titik persamaan dengan neo-positivisme, tetapi lebih banyak dengan filsafat eksistensi seperti M. Scheler, 1874-1928, yang ingin menganalisa nilai-nilai obyektif dengan bertitik tolak pada pengetahuan yang diliputi cinta kasih. N. Hartman, 1882-1950, berusaha menyusun suatu ontologi menurut taraf-taraf kenyataan (Schichten). Edmun Husserl, 1959-1938, menempuh jalannya sendiri ia menempatkan kenyataan diantara tanda kurung dan ingin menganalisa hakekat barang itu seperti nampaknya; demikian ia sampai pada kesimpulan, bahwa barang-barang kongkret menunjukkan lebih lanjut menurut lingkaran-lingkaran kebertautan yang makin luas. Banyak ahli pikir lainnya dipengaruhi oleh Husserl: M.Merleau-ponty, 1908-1961. E. Levinas, lahir tahun 1905, menganalisa “wajah manusia” yang tertera oleh penderitaan dan mencari apa yang terdapat di sebelah sana dunia esensi-esensi, sedangkan P. Recoeur, lahir tahun 1913, menganalisa symbol-simbol purba.

Aliran neo-marxisme dengan E. Bluch,R. Garaudy, J.Habermas dan H.Marcuse, misalnya merekapun mencari wajah manusia dan ingin menyelamatkan manusia dari bahaya pengasingan seperti dilakukan oleh alat-alat seprti partai masyarakat konsumen modern. Kemudian ahli pikir yang mewakili faham strukturalisme (N. Chomsky dalam ilmu bahasa, Cl.Levi-Strauss dalam ilmu antropologi budaya dan M. Foucault dalam sejarah kebudayaan). Biarpun dalam banyak hal mereka mempunyai pandangan sendiri, namun ada satu titik persamaan, yakni mereka ingin melepaskan corak filsafat yang terlalu antroposentris; sebagai pengganti mereka menekankan bahwa sebagai kunci penafsiran hendaklah dicari struktur-struktur obyektif yang sering tersembunyi sebgai suatu lapisan bawah dalam aneka macam lingkungan kebudayaan.