Membendung Pragmatis Dengan Multidisiplin


pragmatis bukan barang baru lagi, tetapi pragmatis ibarat sampah yang berserakan, di manapun itu tempat pasti ada sampahnya, di Masjid, Musholla, Hotel, Penginapan, Rumah Sakit, Sekolahan, Kampus, dan tempat tempat umum maupun khusus lainnya pasti ada sampahnya, itulah analogi pragmatis sekarang ini.

melihat fenomena yang sekarang ini, dimana kebanyakan orang menginginkan dan berorientasi pada hasil yang cepat, tanpa tidak mau tahu memahami proses yang terjadi, seakan akan hal yang semajam ini sudah wajar dan banyak dilakukan dikalangan masyarakat maupun di kalangan pejabat tinggi negara, hanya sedikit orang yang masih tahan dengan pragmatis yang mengancam, tetntunya diantara mereka adalah para masyarakat yang ada di pedesaan dengan mata pekerjaan sebagaia petani dan orang orang yang masih mempunyai Idealisme yang tinggi.

di kalangan politisi sifat semacam ini, telah berhamburan, kadang kala hal  ini telah menyatu pada meanstreem mereka, sehingga pada akhirnya ini akan memperburuk pada proses demokrasi di negara ini, maka pantas ketika para politisi sedang duduk di bankau senayan banyak yang terjerat pada kasus korupsi dan lain sebagainya, di sebabkan karna mereka mengagungkan pragmatisnya.

hal ini pun tidak hanya sekedar terjadi di kalangan politisi, di kalangan akademisi pun hal ini terjadi, dikalangan pembisnis juga terjadi, di kalangan organisatoris juga terjadi, seakan akan pragmatis ini menjadi hama yang sudah tidak bisa di tanggulangi lagi.

berhamburannya pragmatis ini disebabkan karna kurangnya kedisiplinan seseorang dan mudahnya seseorang mengumbar ketomakannya, sehingga meraka mau todak mau harus mencari jalan pintas untuk memperoleh hasil yang mereka inginkan tanpa harus mau tahu bagaiman proses yang di tempuh pada jalan yang sebenarnya.

ketika kedisiplinan seseorang sudah tergrogoti maka selanjutnya yang akan timbul adalah pragmatis, oleh sebab itu multi disiplin sangatlah perlu dalam dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan, supaya timbulnya keserasian sosial, kebersamaan persepsi, kesejahteraan bersama, terhindarnya kesenjangan sosial.

kesadaran dalam hal ini sangatlah penting sekali tanpa kesadaran kedisiplinan tidak akan muncul, apalagi multi kedisiplinan sungguh tidak akan ada kalau tidak di barengi dengan kesadaran.

dengan multidisiplin akan menjadikan manusia pada tingkat komitmen dan loyalitas yang tinggi, baik itu pada dunia organisasi, kerja, akademik, sehingga harkat dan martabat seseorang akan muncul dengan landasan multidisiplin, tanpa harus adanya paksaan dan kekerasan yang muncul.

ketertiban, tanggung jawab, tatanan sosial akan muncul, dinamika yang panas menjadi menyejukkan, karna semua orang telah berjalan pada tatanan konsep yang mengatur arah proses untuk mengapai hasil yang diinginkan. sehingga fitroh perjalanan manusialah yang akan menghiasi kesuksesan pada proses yang telah mereka tempuh, disinilah juga dapat di temui terhadap keadilan sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s