Sisi Lain Bung Karno


Bungkarno SangProklamator PresidenRI SangOrator
Bungkarno SangProklamator PresidenRI SangOrator

Setiap memperingati hari lahir kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita segera tertuju pada figur sang proklamator tercinta: Soekarno. Betul, dalam suasana friksi antar friksi di sekitar peristiwa proklamasi tahun 1945, Soekarno tampil bak jangkar keyakinan, kepercayaan dan persatuan.

Kita bertanya, gerangan apa yang membuat Soekarno menjadi pusat keteladanan, sumbu pemicu semangat yang menggerakkan imajinasi bangsa ke arah pintu gerbang kemerdekaannya? Jelas, bukan karena ia tak punya cacat dan kekurangan. Akan tetapi, di atas segala cacat dan kekuranganya itu, ia memiliki modal terpenting sebagai pemimpin “moral capital”.

Moral berarti kekuatan atau sistem nilai dalam memperjuangan keyakinan, idealisme, dan solidaritas rakyat Indonesia demi kehidupan kebangsaan yang bebas: merdeka. Kapital adalah daya kebajikan yang secara aktual mampu menggerakkan kapasitas transformatif manusia Indonesia berkiblat pada kewibawaan jati diri, visi dan ideologi bangsa.

Suatu ketika ia ditanya oleh Direktur Penjara Bandung ihwal “kehidupan baru” selepas bebas, Bung Karno menjawab: “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara untuk pikiran yang sama” (Soekarno, 1961). Itulah Soekarno berkarakter tegas, nasionalis dan berjiwa patriotis.

Dukun Cilik dari Tulungagung

Cindy Adams mengisahkan biografinya Soekarno dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Roso Daras menceritakan Sekarno dalam Serpihan Sejarah yang Tercecer. Dan masih banyak lagi kisah-kisah biografis yang menuturkan kehidupan sang proklamator itu. Dikisahkan saat Soekarno berusia lima tahun, ia dari tempat tinggalnya di Mojokerto dibawa oleh neneknya ke Tulungagung.

“Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara. Aku akan menjaganya.” kata sang nenek. Kakek-neneknya bukanlah keluerga kaya. Namun, dari berdagang batik, setidaknya cukup mampu memberi Soekarno kecil makan yang cukup.

Di masa tinggal di Tulungagung itulah ia sering mendengar kata-kata “kekuatan-kekuatan gaib”. Kakek dan neneknya meyakini betul bahwa Soekarno kecil memiliki “kekuatan gaib” yang sekarang kita kenal sebagai kemampuan supranatural. Dalam disiplin ilmu parapsikologi, kekuatan gaib pada seorang anak bukanlah hal aneh. Umumnya, kekuatan gaib melekat sejak si jabang bayi lahir.

Misalnya, dapat memberi daya penyembuhan, dapat melihat segala sesuatu yang akan terjadi dan lain sebagainya. Terhadap diri Soekarno, ia diyakini memiliki kekuatan gaib keduanya. Artinya, ia punya kemampuan supranatural di bidang penyembuhan berbagai penyakit, sekaligus mampu mengetahui segala hal yang akan terjadi dalam dimensi waktu yang akan datang.

Soekarno masih ingat, betapa kakek-neneknya sering mengisahkan kehebatannya itu. Tak aneh jika ia harus kerepotan dimintai tolong oleh para tetangganya. Ada tetangga sakit, Soekarno. Tetangga perlu teropong nasib, Soekarno. Jadilah Soekarno laiknya “dukun cilik”. Konon, dalam mengobati, “dukun cilik” asal Tulungagung ini menjilat di area pasien yang sakit.

Setelah itu, aneh bin ajaib, tak lama kemudian sembuh. Demikian pula dalam hal teropong. Ia nyeplos saja menjawab pertanyaan orang-orang yang ingin memanfaatkan kekuatan gaibnya. Aneh, lagi-lagi aneh, tak jarang ceplosan Soekarno benar-benar terjadi.

Keanehan lain menimpa pula terhadap keajaiban yang dimilikinya. Seperti yang dituturkannya kepada Cindy Adams, kemampuan penglihatan gaib itu lambat laut menghilang bersamaan dengan datangnya kegaiban Soekarno dalam merangkai kata, mahir mengatur siasat politik, lihai berdiplomasi, hingga menyihir massa melalui pidato-pidatonya yang cetar membahana. Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s