PBNU: 90 Juta Warga Nahdliyin Siap Dukung Semen Rembang


pbnu

Financial.id, Jakarta. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengatakan, sebanyak 90 juta warga Nahdlliyin di Indonesia siap mendukung beroperasinya pabrik Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah.

Menurut Said Aqil, PT Semen Indonesia telah dianggap melakukan prinsip kepatuhan pada lingkungan serta perbaikan kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan Said Aqil saat penandatanganan bersama antara PT Semen Indonesia dan PBNU, di  Jakarta, Rabu (18/1).

“PBNU sangat mendukung beroperasinya Semen Rembang asal untuk kepentingan rakyat, tidak merugikan rakyat dan tidak berbenturan dengan rakyat,” ujar Said Aqil.

Pada kesempatan ini, Said Aqil menyebutkan bahwa kerjasama seperti ini diharapkan bermanfaat kepada warga NU, seperti adanya beasiswa untuk yang membutuhkannya.

“Jadi tujuannya jelas untuk memberdayakan warga NU dan ketika ada proyek penambangan tidak akan merugikan rakyat. NU atas nama rakyat akan selalu bersama rakyat,” ucap Said Aqil.

Selain itu Said Aqil juga mengimbau PT Semen Indonesia peduli dan mendukung program ekonomi kerakyatan. PBNU juga mendorong BUMN memperhatikan keselarasan lingkungan dalam kegiatan bisnisnya sehingga tidak menyebabkan kerusakan.

“BUMN itu hendaknya tidak hanya mengejar untung, harus juga melayani masyarakat dengan mendorong ekonomi kerakyatan dan mematuhi hukum,” ujar Said Aqil.

Said mengatakan, sudah sepatutnya semua perusahaan dalam struktur BUMN mementingkan sumber ekonomi rakyat kecil. BUMN perlu berkolaborasi dengan ormas yang mengakar kuat ke basis desa sehingga dapat mengawal program transformasi melalui ekonomi kerakyatan.

Said Aqil meminta PT Semen Indonesia untuk berbisnis secara profesional. Caranya dengan mematuhi regulasi yang berlaku sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“BUMN harus menempatkan diri sebagai bagian dari lingkungan masyarakat setempat agar skema bisnisnya tidak eksklusif atau menyingkirkan hajat hidup orang banyak,” tutur Said Aqil.

Prinsip menjaga dari kerusakan, menurut Said Aqil, lebih prioritas dari segalanya. Berdasarkan alasan itulah PBNU mendukung bisnis yang beretika dan siap menegur Pemerintah Indonesia bila ada sesuatu yang dinilai tidak layak.

“Kaidahnya, Dar’hul Mafasid Muqoddamun ‘Ala Jalbil Mashalih. Menolak kerusakan itu harus yang pertama daripada mengambil kemanfaatan. Ini pentingnya agar menjaga alam dari kerusakan,” beber Said Aqil.

Menanggapi itu, Direktur Utama PT Semen Indonesia Rizkan Iskandar menyatakan, imbauan seperti itu telah dilaksanakan. Dia berkomitmen selalu menjaga dan menerapkan yang diharapkan PBNU.

PT Semen Indonesia, ungkap Rizkan, sudah menyelesaikan pembangunan pabrik semennya di Rembang hingga 100 persen dan awalnya di rencanakan beroperasi di awal tahun 2017. Rizkan mengatakan, PT Semen Indonesia sudah melakukan upaya mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dengan pembangunan embung dan program reklamasi lahan yang agar bisa digunakan kembali sebagai lahan pertanian produktif.

Hingga saat ini dana CSR yang digelontorkan ke warga sudah mencapai Rp 35 Miliyar dalam bentuk pemberdayaan ekonomi,  pertanian dan pendidikan. Rizkan menyebutkan, PT Semen Indonesia juga memberikan perbaikan kualitas hidup warga dengan membangun MCK dan penyediaan pompa air untuk memperoleh air bersih lebih mudah.

PT Semen Indonesia SI telah berkomitmen memberikan bantuan 5.000 sak semen guna keperluan membangun pesantren milik NU yang ada diseluruh Indonesia.

Sumber : http://financial.id/newsreader/PBNU:_90_Juta_Warga_Nahdliyin_Siap_Dukung_Semen_Rembang

Iklan

Tips Berfoto Saat Kondisi Minim Cahaya Bagi Pemula


foto-malem

Fotografi kini bukan lagi hobi yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan yang memiliki uang banyak. Berbekal smartphone sudah banyak orang bisa menjalankan aktifitas potret-memotret ini. Pasalnya kian banyak dijumpai ponsel pintar yang telah membenamkan fasilitas kamera bagus. Dan harganya pun jauh lebih terjangkau ketimbang perangkat kamera digital DSLR yang dibanderol mahal.

Sayangnya tak semua pengguna ponsel berkamera bisa memotret dengan hasil memuaskan. Apalagi saat kondisi pemotretan dalam suasana cahaya kurang alias minim cahaya. Pasalnya untuk memperoleh hasil jepretan kamera yang bagus, idealnya pencahayaan pun kudu memadai.

Ada beberapa tips praktis nan sederhana bagi pengguna pemula yang ingin memanfaatkan kameranya untuk mendapatkan hasil potret optimal di kondisi pencahayaan remang (indoor), termasuk saat di malam hari. Cara-caranya memang kelewat simpel, tapi tak ada salahnya dicoba.

– Pakai Senter Smartphone Lain
Rata-rata ponsel kekinian sudah dilengkapi dengan fitur flashlight (senter). Nah, fitur ini tentu bisa dimanfaatkan sebagai bala bantuan saat ingin melalukan foto selfie atau memotret di tempat yang minim cahaya.

– Temukan Lampu Terdekat
Langkah mudahnya, cari dan tentukan spot foto yang dekat dengan sumber pencahayaan. Contohnya lampu terdekat yang ada di dekat objek pemotretan. Walaupun mungkin lampunya tidak seberapa terang, tapi tetaplah akan sangat membantu memberikan dukungan pencahayaan untuk hasil foto lebih terang dan baik. Setidaknya wajah kita akan terlihat.

– Pakai Lampu LED Eksternal
Sebenarnya cara ini mirip dengan penggunaan lampu senter dari perangkat smartphone lainnya. Cuma di sini pengguna diajarkan membuat perangkat flash eksternal dengan mengandalkan lampu LED dan beberapa komponen lainnya secara DIY (do it yourself). Di YouTube, video yang diunggah lewat chanel ‘How to Raju’ memperlihatkan cara menciptakan flash eksternal dengan memanfaatkan lampu LED 3 watt.

– Manfaatkan Flash LED Depan

Cara ini yang sebenarnya lebih ideal untuk dapat mendukung hasil foto selfie yang lebih mumpuni. Menggunakan lampu flash LED depan, hasil jepretan selfie bakal tampak terang dan detil walaupun di kondisi cahaya minim sekalipun. Dan ini bisa difungsikan di manapun dan kapan pun. Baik untuk selfie sendirian atau pun bersama-sama (wefie).

prime7s-style

Saat ini pun sudah banyak smartphone yang sudah menjejalkan kamera depan yang disokong lampu flash LED. Salah satunya yakni Polytron Prime 7S, yang dirilis pada November lalu. Ponsel ini tampil bersama kamera selfie yang terbilang beresolusi tinggi yakni 8 MP.

Kamera depan Prime 7S itu pun memiliki sudut tembak alias sudut tangkap foto lebar, 84 derajat (wide angle) yang berarti ideal untuk berfoto selfie bersama sekalipun. Foto selfie yang tertangkap bisa jauh lebih lebar dan luas ketimbang ponsel lain sekelas. Dan tentunya terang dan detail berkat hadirnya lampu flash LED.

Polytron Prime 7S pun memiliki kamera utama yang oke. Smartphone yang mengusung konsep desain mewah ‘smart luxury phone’ ini dilengkapi dengan kamera belakang 16-megapiksel, dengan fitur lSOCELL plus Dual-Tone Flash yang diyakinkan mampu menghasilkan foto terbaik dengan warna alami. Tentunya pemotretan di kondisi minim cahaya tak ada masalah sedikitpun. Apalagi sudah disokong fitur PDAF (Phase Detection Autofokus) untuk mengunci fokus secara cepat dan akurat, kurang dari 0,3 detik.

Melihat hal di atas, bisa dibilang Polytron Prime 7S bisa menjadi salah satu smartphone yang menarik untuk aktifitas selfie. Juga untuk fotografi dalam kegiatan keseharian.

Kiranya tips-tips sederhana di atas bisa untuk dicoba. Yang pasti, jika ingin berselfie sebaiknya pilih smartphone yang memiliki dukungan lampu flash depan. Atau setidaknya memiliki kemampuan untuk memberikan penerangan lebih saat berfoto di kondisi cahaya minim (malam hari), semisal dengan fitur screenflash, dimana memanfaatkan pencahayaan layar untuk membantu penerangan. (*/wr)

sumber : https://m.tabloidpulsa.co.id/news/28419-tips-berfoto-saat-kondisi-minim-cahaya-bagi-pemula

KPK Berikan Penghargaan Pencegahan Korupsi Terbaik ke Pemprov Jateng


ganjar

Pekanbaru – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan penghargaan kepada Pemprov Jawa Tengah (Jateng) sebagai pemerintahan dalam pengendalian dan pencegahan korupsi. Pemberian penghargaan ini dilakukan di Pekanbaru sebagai tuan rumah Hari AntiKorupsi Internasional (HAKI).

“Pemprov Jateng yang terbaik dari sejumlah provinsi lainnya dalam pengendalian dan pelaporan gratifikasi. Parameternya, karena kita melihat ada unit-unit yang dibentuk dalam koordinasi dalam pencegahan gratifikasi,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam acara HAKI yang berpusat di Pekanbaru, Jumat (8/12/2016).

Menurut Agus, pihaknya memberikan penilaian ini ke seluruh pemerintah daerah di Indonesia. Sistem pemerintahan yang dilaksanakan Jateng selama ini dinilai yang paling terbaik dan berdampak positif ke publik.

“Kiranya apa yang diraih Pemprov Jateng ini bisa menjadi contoh pemerintah daerah lainnya,” kata Agus.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang menerima penghargaan di Hotel Aryaduta Pekanbaru, mengatakan, bahwa untuk mencegah korupsi kolusi dan nepotisme sangat mudah.

“Nggak susah kok. Kuncinya adalah mau atau tidak saja. Kalau ada niat dan bersepakat, tentunya bisa,” kata Ganjar.

Ganjar bercerita, bahwa penghargaan tersebut diterima untuk kedua kalinya. Pada tahun 2015, Pemprov Jateng juga menerima penghargaan yang sama dari KPK.

“Saya juga memberikan contoh untuk selalu menyerahkan semua barang-barang gratifikasi ke KPK,” kata Ganjar.

sumber : https://news.detik.com/berita/3367369/kpk-berikan-penghargaan-pencegahan-korupsi-terbaik-ke-pemprov-jateng

Serba-Serbi Minol Tradisional di Indonesia


serba-serbi_minol_tradisional

Jakarta, GoHitz.com – Ternyata, minuman beralkohol (minol) tradisional ini sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia selama berabad-abad lamanya jauh sebelum bangsa Eropa memperkenalkan minol mereka ke Tanah Air. Biasanya, minol tradisional ini adalah bagian kebiasaan hidup atau adat yang berlaku di masyarakat.

Hasil Fermentasi Tumbuhan Asli Indonesia

Kekayaan tumbuhan yang hidup di Indonesia ini menciptakan varietas minol tradisional yang beragam. Umumnya, minol tradisional ini berasal dari tanaman atau buah.

Sebagai contoh, tuak. Minol tradisional berasal dari hasil fermentasi yang berasal dari aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lainnya. Singkatnya, tuak ini berasal dari hasil fermentasi dari buah yang rasanya manis.

Atau bicara soal minol dari Sulawesi Utara yang bernama Cap Tikus. Minol ini berasal dari peyulingan Sagoer—cairan yang disadap dari pohon enau dengan kadar alkohol sekitar 5 persen—dan populer di kalangan petani untuk menambah stamina bekerja.

Lekat dengan Adat di Indonesia

Tak sekadar dikonsumsi saja, minol juga lekat sebagai instrumen perayaan momen penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, hingga menjadi sarana sosialisasi antara individu di dalam komunitas atau di luar komunitasnya.

Seperti halnya Arak Bali. Minol ini berasal dari hasil fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan lain. Biasanya, arak dengan kadar alkohol 37-50 persen ini digunakan dalam upacara adat untuk menghormati para dewata.

Belum Dilindungi Payung Legal

Sayangnya, minol tradisional yang hingga kini menjadi instrumen budaya ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Akibatnya, minol tradisional belum diakui secara legal sebagai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA).

Mengapa legal menjadi penting? Sebab, mayoritas produsen minol tradisional ini adalah industri rumahan yang menjalankan usaha secara tradisional. Sebenarnya, tujuan mereka tidak secara langsung untuk motif bisnis, melainkan diperuntukan bagi kalangan terbatas untuk kebutuhan adat atau lainnya.

Selanjutnya, produksi rumahan dengan alat dan cara yang sangat tradisional ini menyulitkan para pihak untuk mendapatkan lisensi. Apalagi, produksi minol tradisional ini mengandalkan “resep nenek moyang” dan alat produksi rumah tangga tidak menjamin higienitas, kadar alkohol yang dihasilkan, dan hal-hal lain yang seharusnya sangat diperhatikan dalam proses produksi minol. Oleh karena itu, pemerintah sebagai regulator sekaligus pengawas akan kesulitan untuk mengatur produk-produk tersebut.

Tak heran bila Hal-hal tersebut membentuk stigma bahwa minol tradisonal tidak aman untuk dikonsumsi. Padahal minol tradisional sebetulnya sudah termasuk food grade dan layak dikonsumsi oleh manusia, dalam batas-batas tertentu yang diperkenankan karena diproduksi dari bahan-bahan alami seperti nira, beras, atau buah-buahan yang organik. Selain itu, proses produksi yang masih sangat tradisional juga dapat lebih menjamin keamanan produk karena tidak ditambahkan bahan kimia buatan lainnya.

Kesalahpahaman Mesti Diluruskan

Belum selesai mengenai legal, minol tradisional ini diperparah dengan hadirnya “oplosan” yang belakangan menyebabkan kematian. Secara mendasar, ‘oplosan’ merupakan campuran minuman ringan yang ditambahkan alkohol teknis atau alkohol yang tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Oleh karena itu, pemerintah mesti memberikan edukasi mengenai bahaya “oplosan” dan menindak tegas segala jenis “oplosan” dan distribusinya.

Jadikan Minol Tradisional Sebagai Komoditi Unggulan  

Belajar dari minol asal negara lain, seperti vodka (Rusia), whisky (Amerika), wine (Prancis), gin (Inggris), sake (Jepang), soju (Korea), dan lain sebagainya sebagai salah satu komoditi unggulan suatu negara.

Berkaca dari hal tersebut, sebenarnya minol tradisonal Indonesia juga memiliki peluang pasar internasional yang prospektif mengingat konsumsi minol masyarakat dunia yang sangat tinggi.

Minol tradisional Indonesia yang digemari oleh para wisatawan mancanegara karena cita rasa yang khas dan bahan yang berkualitas tinggi seharusnya dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan ekspor minol tradisonal Indonesia ke luar negeri, terutama negara-negara dengan tingkat konsumsi minol yang sangat tinggi.

Dengan begitu, roda perekonomian produsen lokal bisa lebih berkembang. Ini berarti peluang ekonomi bagi banyak orang yang terlibat dalam industri minol tradisional ini, mulai dari petani, buruh pabrik, suplier kemasan, hingga perusahaan kargo. Efek berganda dan berkelanjutan ini dapat menjadi solusi di tengah lesunya perekonomian Indonesia akhir-akhir ini.

sumber: (http://www.gohitz.com/article/budaya/serba-serbi_minol_tradisional_di_indonesia)

Investasi Besar dari Semen Indonesia


9.JPG

Menurut data dari Kementerian Perindustrian, telah ada sebanyak 12 investor yang siap menggelontorkan dana sekitar US$ 6,68 miliar (Rp 65,03 triliun) untuk membangun pabrik semen di Indonesia pada 2013-2017. Investasi tersebut akan melambungkan kapasitas produksi semen di Tanah Air menjadi 108,77 juta ton, atau bertambah 48,3 juta ton dari akhir 2012 sebanyak 60,47 juta ton.

Sebagai perusahaan milik BUMN, Semen Indonesia memiliki kewajiban untuk memenuhi cita-cita para pejuang dalam mengisi kemerdekaan. Pembangunan Semen Indonesia juga bagian dari upaya untuk membangun kesejahteraan bangsa. Meskipun dalam pendiriannya di Rembang menuai kontroversi, namun Semen Indonesia akan tetap bertahan sebab memiliki investasi besar yang juga memberikan keuntungan besar untuk perekonomian masyarakat Rembang pada khusunya dan Indonesia pada umumnya.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menyatakan pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah, telah mencapai 95 persen dan ditargetkan mampu beroperasi pada akhir tahun 2016. Meskipun masih ada beberapa “PR’ yang harus diselesaikan untuk meyakinkan para penolaknya, namun pendirian pabrik semen di Rembang akan tetap berjalan dengan baik dan aman.

Jika ditinjau kembali, tujuan didirikannya Semen Indonesia di Rembang adalah untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Disamping itu, Rembang dipilih sebagai tempat pendirian pabrik Semen karena melihat konsumsi atau pengguna Semen untuk bangunan paling banyak berasal dari pulau Jawa. Hal ini disebabkan banyaknya penduduk yang tinggal di pulau Jawa, sehingga menjadikan Jawa sebagai Pulau yang paling banyak konsumennya. Selanjutnya disusul oleh Pulau Sumatera dan berikutnya Sulawesi.

Di Rembang sendiri, berdirinya pabrik semen di daerah ini selain membangun titik baru pertumbuhan ekonomi juga menegaskan kesiapannya sebagai daerah tujuan investasi berskala besar

Permintaan semen di masa mendatang akan kian meningkat bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin stabil, selain itu besarnya belanja infrastruktur pemerintah, serta kian makmurnya penduduk juga mempengaruhi adanya peningkatan tersebut.

Sumber : (https://indonesiana.tempo.co/read/99161/2016/11/17/Kitabanggaindonesia/investasi-besar-dari-semen-indonesia)

Sisi Lain Bung Karno


Bungkarno SangProklamator PresidenRI SangOrator
Bungkarno SangProklamator PresidenRI SangOrator

Setiap memperingati hari lahir kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita segera tertuju pada figur sang proklamator tercinta: Soekarno. Betul, dalam suasana friksi antar friksi di sekitar peristiwa proklamasi tahun 1945, Soekarno tampil bak jangkar keyakinan, kepercayaan dan persatuan.

Kita bertanya, gerangan apa yang membuat Soekarno menjadi pusat keteladanan, sumbu pemicu semangat yang menggerakkan imajinasi bangsa ke arah pintu gerbang kemerdekaannya? Jelas, bukan karena ia tak punya cacat dan kekurangan. Akan tetapi, di atas segala cacat dan kekuranganya itu, ia memiliki modal terpenting sebagai pemimpin “moral capital”.

Moral berarti kekuatan atau sistem nilai dalam memperjuangan keyakinan, idealisme, dan solidaritas rakyat Indonesia demi kehidupan kebangsaan yang bebas: merdeka. Kapital adalah daya kebajikan yang secara aktual mampu menggerakkan kapasitas transformatif manusia Indonesia berkiblat pada kewibawaan jati diri, visi dan ideologi bangsa.

Suatu ketika ia ditanya oleh Direktur Penjara Bandung ihwal “kehidupan baru” selepas bebas, Bung Karno menjawab: “Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan saya meninggalkan penjara untuk pikiran yang sama” (Soekarno, 1961). Itulah Soekarno berkarakter tegas, nasionalis dan berjiwa patriotis.

Dukun Cilik dari Tulungagung

Cindy Adams mengisahkan biografinya Soekarno dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Roso Daras menceritakan Sekarno dalam Serpihan Sejarah yang Tercecer. Dan masih banyak lagi kisah-kisah biografis yang menuturkan kehidupan sang proklamator itu. Dikisahkan saat Soekarno berusia lima tahun, ia dari tempat tinggalnya di Mojokerto dibawa oleh neneknya ke Tulungagung.

“Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara. Aku akan menjaganya.” kata sang nenek. Kakek-neneknya bukanlah keluerga kaya. Namun, dari berdagang batik, setidaknya cukup mampu memberi Soekarno kecil makan yang cukup.

Di masa tinggal di Tulungagung itulah ia sering mendengar kata-kata “kekuatan-kekuatan gaib”. Kakek dan neneknya meyakini betul bahwa Soekarno kecil memiliki “kekuatan gaib” yang sekarang kita kenal sebagai kemampuan supranatural. Dalam disiplin ilmu parapsikologi, kekuatan gaib pada seorang anak bukanlah hal aneh. Umumnya, kekuatan gaib melekat sejak si jabang bayi lahir.

Misalnya, dapat memberi daya penyembuhan, dapat melihat segala sesuatu yang akan terjadi dan lain sebagainya. Terhadap diri Soekarno, ia diyakini memiliki kekuatan gaib keduanya. Artinya, ia punya kemampuan supranatural di bidang penyembuhan berbagai penyakit, sekaligus mampu mengetahui segala hal yang akan terjadi dalam dimensi waktu yang akan datang.

Soekarno masih ingat, betapa kakek-neneknya sering mengisahkan kehebatannya itu. Tak aneh jika ia harus kerepotan dimintai tolong oleh para tetangganya. Ada tetangga sakit, Soekarno. Tetangga perlu teropong nasib, Soekarno. Jadilah Soekarno laiknya “dukun cilik”. Konon, dalam mengobati, “dukun cilik” asal Tulungagung ini menjilat di area pasien yang sakit.

Setelah itu, aneh bin ajaib, tak lama kemudian sembuh. Demikian pula dalam hal teropong. Ia nyeplos saja menjawab pertanyaan orang-orang yang ingin memanfaatkan kekuatan gaibnya. Aneh, lagi-lagi aneh, tak jarang ceplosan Soekarno benar-benar terjadi.

Keanehan lain menimpa pula terhadap keajaiban yang dimilikinya. Seperti yang dituturkannya kepada Cindy Adams, kemampuan penglihatan gaib itu lambat laut menghilang bersamaan dengan datangnya kegaiban Soekarno dalam merangkai kata, mahir mengatur siasat politik, lihai berdiplomasi, hingga menyihir massa melalui pidato-pidatonya yang cetar membahana. Sekali Merdeka Tetap Merdeka!!

Alasan Bendera Menggunakan Warna Merah Putih


#RI70 kemerdekaan HUTRI BENDERA INDONESIA
#RI70 kemerdekaan HUTRI BENDERA INDONESIA

Salah satu yang tak pernah absen kala kita merayakan hari kemerdekaan republik Indonesia adalah bendera. Ya, bendera Sang Saka Merah Putih. Kita bertanya, mengapa bangsa Indonesia memilih warna merah-putih untuk bendera kebangsaan? Sejarahnya jelas cukup panjang dan tentunya punya nilai-nila filosofis yang mendalam.

Kisaran tahun 1922 Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Kertanegara mencapai puncak kejayaan. Suatu ketika datanglah pemberontakan yang dilancarkan oleh raja Kediri bernama Jayakatwang. Namun, mendapat perlawanan dari tentara Singosari yang dipimpin oleh Raden Wijaya. Catatan sejarah ini teryata ditemukan kembali tahun 1790 di Gunung Butak, Surabaya.

Di sebutkan dalam catatan itu, “demikianlah keadaan ketika tentara Sri Maharaja (Raden Wijaya) bergerak terus sampai ke Rabut Carat. Tidak lama, datanglah musuh dari arah barat. Saat itu juga Sri Maharaja bertempur dengan pemberontak dan musuh pun lari tunggang langgang. Tapi di sebelah timur panji-panji musuh berkibar, warnanya merah putih ….”

Lain lagi dengan sejarah pada masa Kerajaan Mataram, warna bendera kita dikenal sebagai Gula Kelapa. Hal ini diidentikkan dengan warna Gula = merah dan Kelapa = putih. Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai benda pusaka Kerajaan Surakarta, bendera Kyai Ageng Tarub yang dasarnya putih bertuliskan Arab-Jawa dan atasnya garis merah.

Sejarah selanjutnya di zaman Pangeran Diponegoro. Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Peperangan di tahun 1825-1830 melawan kolonial Belanda tersebut mempunyai catatan sejarah yang berharga. Ketika Pangeran Diponegoro sedang melakukan perjalanan, ia berkata kepada Mangkubumi, ”Paman lihatlah rumah dan mesjid sedang dibakar, api merah menyala-nyala ke atas langit. Kini kita tak berumah lagi di dunia.”

Kemudian Pangeran Diponegoro melihat ke arah Tegalrejo, selanjutnya ke Selarong, tempat rakyat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu beliau mengucapkan kata-katanya yang terkenal kepada isterinya, Batnaningsing, ”Perang telah mulai! Kita akan pindah ke Selarong. Pergilah Adinda ke sana dan berikanlah segala intan permata serta emas perakmu kepada rakyat yang mengikuti kita.”

Dalam peperangan yang berakhir pada tahun 1830 itu Pangeran Diponegoro kalah. Bendera Merah Putih pun tidak berkibar lagi. Sejarah berikutnya tatkala para mahasiswa Indonesia yang ada di Negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1920. Panji yang mereka pilih adalah Merah Putih Kepala Kerbau.

Sedangkan pada tahun 1927 Ir. Soekarno (Presiden pertama RI) mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Bendera Merah Putih dihiasi Kepala Banteng sebagai lambang organisasinya. Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bernaung di bawah bendera Merah Putih dengan lambang garuda terbang. Dan garuda terbang menjadi lambang tersendiri, sehingga tinggal warna Merah Putih.

Nah, ketika menjelang negara kita merdeka, panitia kecil yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara ditugaskan untuk meneliti bendera dan lagu kebangsaan. Diputuskanlah kata sepakat arti ukuran serta lagu kebangsaan. Yaitu Merah berarti berani, Putih berarti suci yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter.

Sedangkan lagu kebangsaannya yaitu lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. Sebagai tindak lanjut penetapan bendera tersebut tertuang dalam UUD 1945 pasal 35, yang berbunyi, ”Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” Demikianlah jejak sejarah panjang warna bendera kita Sang Merah Putih.